Mau cerita apa aja yang aku mau ceritakan (?)

Hai blog. Seperti biasa aku sering meninggalkanmu, dan aku kembali menulis ketika sedang dilanda masalah ataupun uneg-uneg yang mungkin sulit tersampaikan.
Mau cerita darimana ya? Saking banyaknya, sampai bingung mau memulai darimana. Semua tulisan disini rata-rata isinya galau semua ya?hahahaha maafkan deh ya. Sebelum memulai cerita, siapkan waktu luang untuk membacanya karena kemungkinan akan panjang sekali ceritanya.
Pertama-tama aku akan cerita tentang kuliahku. Alhamdulillah aku telah lulus pada tanggal 6 November 2017 dengan IPK sekian koma sekian sekian, cukup baik untuk anak seperti aku yang gak pinter-pinter amat tapi juga gak bodoh hahahaha. Lega rasanya udah lulus, gerbang kehidupan terbuka lebar setelah lulus. Aku masih mencari kerja, terbilang cukup lama ya ternyata aku jadi pengangguran. It's okay, rezeki sudah ada yang mengaturnya. Aku masih terus berusaha mencari sambil berdoa supaya didekatkan rezekiku.
Kemudian cerita yang kedua, diawal postingan blog ini tertulis kalau aku menunggu kata maaf dari seseorang? Yap, alhamdulillah orang tersebut telah minta maaf ke aku dan hubungan kami membaik. Setelah hampir 3 tahun lost contact dengannya, akhirnya kami saling menemukan melalui instagram. Luar biasa ya sosial media jaman sekarang, bisa menghubungkan hubungan yang telah putus sekian tahun. Dibalik canggihnya teknologi, balik lagi kepada kepribadian diri masing-masing. Kalau ego kita tidak diturunkan kadarnya sedikit, mungkin tidak akan ada kata "maaf" yang terucap. Kami jujur-jujuran tentang perasaan masing-masing. Dan ternyata perasaan dia masih sama dengan yang dulu. Entah dia berbohong atau tidak, aku tidak peduli hahahahahaha.
Ketiga, aku mau bercerita tentang theo's. Hampir setahun kami marahan, sama sekali tidak komunikasi, dan saling tidak peduli satu sama lain. Ego kami tinggi, sangat tinggi hingga kami benar-benar tidak komunikasi sama sekali hampir setahun. Ini salahku, YA INI SEMUA SALAHKU. Salahku kenapa aku tidak pandai menyampaikan maksud dari isi hatiku. Susah memang untuk berkata jujur, karena seringkali kejujuran tidak dapat diterima dengan baik. Masalah sepele bisa menjadi boomerang bagi suatu hubungan. Aku benar-benar kehilangan sosok yang dewasa ketika dia marah denganku. Selama kami diam seribu bahasa, aku belajar untuk menjadi lebih dewasa. Berfikir sebelum bertindak adalah kunci dari akibat perbuatan kita. Banyak yang berubah dalam diri ini sejak dia benar-benar ngediemin aku, atau lebih tepatnya kami saling diam. Suatu hari, lupa itu kapan, kalau tidak salah ingat seminggu setelah dia ulangtahun. Aku membulatkan tekatku untuk menghubunginya kembali. Semua ini atas dorongan teman dekatku yang juga tau akar dari permasalahannya. Temanku ini bilang "sampai kapan lu sama dia marahan? kalian berdua ini cuma salah paham, cuma tidak bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain. gue tau kalian masih saling sayang satu sama lain, tapi  kalian egois untuk mengutarakannya". Saling sayang? apa gak salah kata-kata itu? Dia sama sekali gak pernah bilang sayang ke aku, tapi kenapa semua orang bilang kalau dia sayang sama aku? Ah, sudahlah. Hanya dia dan Allah yang tau bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya. Lanjut.... Seminggu setelah dia ulangtahun, aku memberanikan diri untuk menghubunginya. Aku chat panjang x lebar dan berusaha menjelaskan semuanya dan tak lupa aku pun meminta maaf ke dia. Lega rasanya bisa berkata "maaf" padahal kata "maaf" adalah kata yang paling sulit terucap. Meskipun (mungkin) aku tidak salah, setidaknya aku berusaha berkomunikasi lagi dengan dia. Dia memaafkanku. Alhamdulillah. Kami tidak bisa sedekat dulu lagi, ada jarak yang membuat kami masih terasa jauh. Aku ingin seperti dulu lagi, dimana dia selalu ada buat aku. Aku tau sekarang keadaan telah berubah. Dunia kerja menyita waktu kebersamaan kami. Paling tidak aku ingin akrab seperti dulu lagi. Apapun aku ceritakan kepadanya. Kemana-mana selalu sama dia, ke tempat yang belum pernah aku kunjungi, masih sekitaran Jakarta juga sih. Ternyata benar, hanya waktu yang menyembuhkan luka dalam, hanya waktu yang bisa merubah segalanya, hanya waktu yang bisa membuat kami sedekat dulu lagi, dan hanya waktu yang dapat membuktikan segalanya. Ada satu hal yang pernah dia janjikan (bukan janji sih tapi lebih ke arah ajakan doang), dia mau mengajak ke suatu tempat yang seperti di film Paper Towns. Ketika jenuh, cobalah untuk keluar dari zona nyaman. Kemudian temukan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Akhir febuari, aku berhasil keluar dari zona nyaman untuk beberapa hari. Selama masa tersebut, banyak hal yang aku fikirkan, salah satunya mengenai kamu, theonya decan. Entah sampai kapan theo bisa seperti dulu lagi. Tapi..... aku gak mau terus menerus terlarut dalam masalah yang sama. Aku harus bisa melupakan masa-masa dimana aku bersama kamu. Aku ikhlas jika kita tidak bisa seperti dulu. Setidaknya kita sudah tidak marahan lagi, setidaknya aku tau kamu akan baik-baik aja tanpa aku, dan setidaknya aku tahu, kamu sedang mengejar mimpimu untuk menjadi seorang auditor yang hebat. Aku percaya mimpimu itu bisa terwujud, karena aku tau kamu adalah orang yang berjuang untuk hidupmu sendiri.
Dan cerita yang terakhir.... Sepertinya ini tidak perlu diceritakan karena aku menganggap ini bukanlah suatu masalah, hanya ketidakstabilan emosional dan perasaanku saat ini. Seiring waktu semuanya akan baik-baik saja. Harapanku cuma satu, semoga kita tetap komunikasi seperti biasa. Jangan lost contact. Jika Allah mengabulkan doaku, maka semua akan indah pada waktunya. Aku tidak akan jujur dengan perasaanku, aku akan lebih memilih diam dan lebih baik aku berdoa. Karena doa dapat merubah isi hati manusia, doa dapat merubah takdir yang buruk menjadi lebih baik, dan doa dapat merubah segalanya.
Udah sih segitu aja yang mau aku ceritain. Semoga tidak menyesal untuk membacanya. Kepada theonya decan, semoga kita bisa seperti dulu. Untuk bayi gurita, semoga kamu cepat lulus dan sini kembali ke Jakarta, aku menunggu. Dan untuk kamu, semoga kita baik-baik aja.

Komentar